Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemanasan Global. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Juni 2010

Indonesia (Pantas) Masuk Dalam Guinness Book of World Record

Kalau tahun 2030, kita berikhtiar untuk menjadi negeri 5 besar dunia dalam pertumbuhan ekonomi, maka tahun 2006 lalu peringkat kita sudah nomer 4 dunia lho. Tetapi dalam urutan negeri- negeri yang menyebabkan pemanasan global dunia.

Peringkat pertama tetap diduduki Amerika Serikat, lalu diikuti Uni Eropa dan peringkat ketiga adalah China. Indonesia peringkat keempat, berturut-turut diikuti Brasil, Rusia dan India. Uni Eropa adalah terdiri 25 negara. Kalau dihitung setiap negara, maka peringkat Indonesia akan naik menjadi tiga, di bawah AS dan China.

Hal ini diungkapkan oleh Sir Nicholas Stern, Kepala Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan Iklim dan Pembangunan, yang baru-baru ini berkunjung ke Jakarta (dikutip dari Sindo). Menurut data Sir Nicholas ini, dalam setahun Indonesia menghasilkan 3,014 juta ton karbondioksida atau setara dengan MtCO2e (emisi GHG - greenhouse gas).

Tadinya aku cukup heran, karena biasanya negara-negara majulah yang paling suka menyumbangkan soal pemanasan global, kenapa Indonesia negera berkembang sudah masuk peringkat 4?

Pemahamanku sebelum ini, efek rumah kaca ini lebih karena pemakaian kendaraan bermotor, gaya hidup boros dalam penggunaan perangkat elektronik, contohnya lemari es yang mengandung CFC. Maka tak heran bila negara-negara majulah penyumbang terbesar, karena justru gaya hidup modern yang meningkatkan pemanasan global.

Lalu kenapa Indonesia? Apakah gaya hidup masyarakat kita sudah sedemikian maju? Ternyata tidak. Menurut Sir Nicholas, dari 3,014 juta ton CO2 tadi, sekitar 2,563 juta ton CO2 disumbangkan dari perusakan hutan dan konversi lahan. Maksudnya? Itu lho akibat pembakaran hutan, pembukaan hutan menjadi lahan pemukiman atau pertanian, dll.

Data tersebut jumbuh dengan data yang dirilis oleh Greenpeace Indonesia, yakni setiap harinya di Indonesia telah terjadi penghancuran hutan sebesar 51 kilometer persegi atau setara dengan hilangnya 300 lapangan bola / jam. Angka ini menurut Greenpeace layak menempatkan Indonesia di dalam the Guinness Book of World Records sebagai negara penghancur hutan tercepat di dunia.

Angka tersebut diperoleh dari kalkulasi berdasarkan data laporan ‘State of the World's Forests 2007' yang dikeluarkan the UN Food & Agriculture Organization's (FAO). Menurut laporan tersebut sepuluh negara membentuk 80 persen hutan primer dunia, di mana Indonesia, Meksiko, Papua Nugini dan Brasil mengalami kerusakan hutan terparah sepanjang kurun waktu 2000 hingga 2005. "Tingkat penghancuran hutan yang luar biasa ini membuat Indonesia layak untuk masuk ke dalam the Guinness book of World Records bergabung dengan Brasil yang saat ini memegang rekor kawasan deforestasi terluas di dunia," ungkap Hapsoro, Juru Kampanye Hutan Regional, Greenpeace Asia Tenggara.

Buah dari prestasi di atas adalah perubahan iklim yang sudah bisa kita rasakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Para petani kita sudah tidak bisa lagi memprediksi cuaca dan iklim. Musim kemarau terlalu panjang, musim hujan begitu lebatnya. Buat yang di kota seperti Jakarta, sudah mengunyah akibatnya seperti banjir, angin puting beliung.

Lalu bagaimana cara mencegahnya? Alam ini sudah terlanjur rusak, maka perlu langkah - langkah cepat dan revolusioner untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut.

Greenpeace Indonesia mengusulkan moratorium atau penghentian penebangan hutan di Indonesia sampai beberapa tahun ke depan, seperti yang diungkapkan lewat aksi kampanye mereka di Tugu Proklamasi pada tanggal 16 Maret 2007 lalu.

Tentu ini langkah revolusioner, dan perlu dicarikan jalan keluar bagi industri-industri kehutanan maupun perkayuan yang pasti akan mati, bila moratorium ini dilaksanakan. Tetapi bila moratorium ini tidak segera dilaksanakan, maka di hari esok kita akan menyongsong bencana dan korban jiwa yang lebih besar.

Kamis, 06 Mei 2010

TUMBUHAN TERBUKTI MENAHAN PEMANASAN GLOBAL

Tumbuhan tetap memainkan peran penting yang efektif dalam menangkal pemanasan global, meski ia juga menghasilkan gas rumah kaca. Para peneliti University of Edinburgh, Inggris, menunjukan bahwa daun-daun tumbuhan hanya menyebabkan kurang dari 1 persen emisi metana bumi, yang dianggap 25 kali lipat lebih efektif daripada karbon dioksida dalam pemanasan global.

Hasil riset mereka bertentangan dengan studi ilmiah sebelumnya, yang menyatakan tumbuhan bertanggung jawab menghasilkan gas rumah kaca, karena output gas metana yang dihasilkan jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas mereka menyimpan karbon dari atmosfer di dalam daun, kayu, dan kulitnya.


Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti membuat daun buatan yang terbuat dari pectin tumbuhan dan menghitung metana yang dihasilkan ketika daun terpapar sinar matahari. Mereka mengkombinasikan hasil riset itu dengan data satelit tentang tutupan daun di permukaan bumi, ozon di atmosfer, tutupan awan, temperatur, dan informasi level cahaya matahari untuk membantu mengukur Jumlah metan yang diproduksi oleh seluruh tumbuhan di bumi.

Hasil riset itu memperbaiki studi sebelumnya yang mengindikasikan bahwa kuantitas metan yang diproduksi oleh tumbuhan ada kemungkinan jauh lebih tinggi. Riset lanjutan akan dilakukan untuk memeriksa produksi metana dari bagian tumbuhan selain daun dan Jumlah metana dari berbagai spesies tumbuhan di berbagai wilayah bumi. “Hasil Penelitian kami menunjukkan bahwa daun memang meningkatkan metana, tapi jumlahnya kecil sekali,” kata Dr. Andy Mcleon dari Fakultas ilmu Bumi University od Edinburgh. “Temuan ini dapat meredam kekhawatiran bahwa kehutanan dan pertanian turut berkontribusi pada pemanasan global.”

Sumber:
Koran Tempo
Sciendaily
Senin, 03 Mei 2010
Halaman B4

KARBON DIOKSIDA TUMBUHAN MENINGKATKAN PEMANASAN GLOBAL

Pepohonan dan berbagai jenis tumbuhan lain memang membuat bumi sejuk, namun di sisi lain meningkatkan level karbon dioksida di atmosfer, sehingga menihilkan efek penyejuk udara globalnya. Menurut riset yang baru dilakukan oleh peneliti di Carnegie Institution for Science, untuk beberapa wilayah, lebih dari seperempat pemanasannya berasal dari peningkatan Jumlah karbon dioksida yang dihasilkan oleh vegetasi.

Pemanasan itu menambah efek karbon dioksida yang sudah terkenal sebagai gas rumah kaca yang memerangkap panas. Studi itu menggarisbawahi betapa pentingnya memasukkan tumbuhan ke dalam pemodelan iklim yang tengah dikerjakan para pakar untuk memprediksi iklim di masa depan.


“Tumbuhan mempunyai pengaruh yang amat rumit dan beragam pada sistem iklim,” kata Ken Caldeira dari Departement of Global Ecology di Carnegie Institution for Science. “Tumbuhan mengambil karbon dioksida dari atmosfer, tapi mereka juga punya efek lain, seperti mengubah Jumlah evaporasi dari permukaan tanah. Mustahil membuat prediksi iklim yang baik tanpa mengikutsertakan seluruh factor”.

Tumbuhan melepaskan air dari stomata atau pori-pori kecil di daunnya, sebuah proses yang disebut evapotranspirasi yang mendinginkan tumbuhan, sama seperti keringat mendinginkan tubuh kita. Pada hari yang panas, sebuah pohon dapat mengeluarkan puluhan gallon air ke udara, bertindak sebagai penyejuk udara alami bagi sekitarnya. Tumbuhan juga menyerap karbon dioksida untuk fotosintesis lewat pori-pori yang sama. Tetapi ketika kadar karbon dioksida tinggi, pori-pori daun menciut. Ini menyebabkan sedikit air yang dilepaskan, menghilangkan kekuatan pohon itu untuk menyejukan Lingkungan sekitarnya.

Caldeira mengatakan, efek pemanasan karbon dioksida sebagai gas rumah kaca sebenarnya telah lama diketahui. Tetapi Caldeira dan rekannya, Long Cao, prihatin, karena efek pemanasan karbon dioksida lewat pengaruh langsungnya terhadap tumbuhan tidak terlalu diperhitungkan.

Dua peneliti Carnegie lain, Chris Field dan Joe Berry, sebelumnya telah mengindikasikan bahwa efek itu sangat penting. “Tak diragukan lagi, karbon dioksida menurunkan pendinginan evaporatif tumbuhan, dan penurunan itu memberikan sumbangan bagi pemanasan global,” kata Cao. “Efek ini menyebabkan pemanasan yang signifikan, meski karbon dioksida bukanlah gas rumah kaca.”

Dalam pemodelan mereka, para peneliti menggandakan konsentrasi karbon dioksida atmosfer dan mencatat magnitude dan pola geografis pemanasan dari berbagai factor. Mereka menemukan bahwa pengaruh rata-rata evapotranspirasi tumbuhan di seluruh dunia bertanggung jawab atas 16 persen pemanasan di permukaan tanah, sedangkan efek gas rumah kaca bertanggung jawab atas sisanya.

Tetapi di sejumlah wilayah, seperti kawasan Amerika Utara dan Asia Timur, angka itu bias mencapai lebih dari 25 persen dari total pemanasan.” Jika kita menganggap penggandaan karbon dioksida menyebabkan kenaikan temperatur empat derajat, di banyak tempat tiga derajatnya berasal dari efek karbon dioksida di atmosfer, dan satu derajat lainnya disumbangkan oleh pengaruh langsung karbon dioksida pada tumbuhan,” katanya.

Sumber:
Koran Tempo
ScienceDaily
Halaman: B5
15 Mei 2010

 

Sahabat Ngopi

Wong Indehoi

Two Bhe

Tags

Serdadu Hijau Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template